NiknasEdu.Com – Pengertian Gurindam: Ciri, Sejarah, dan Penciptanya. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD), kita sering mempelajari berbagai macam puisi lama. Mungkin kalian sudah sangat akrab dengan pantun, tetapi pernahkah kalian mendengar tentang Gurindam?
Gurindam adalah karya sastra lama yang bentuknya sangat unik dan selalu berisi nasihat bijak. Bagi Adik-adik yang sedang mencari bahan belajar atau Bapak/Ibu yang mendampingi putra-putrinya di rumah, artikel ini akan membahas tuntas semua hal tentang gurindam. Mari kita pelajari bersama-sama!
Apa Itu Gurindam?
Gurindam adalah salah satu jenis puisi lama yang hanya terdiri dari dua baris dalam satu bait. Berbeda dengan puisi modern yang bentuknya bebas, gurindam memiliki aturan yang sangat mengikat.
Puisi lama ini sangat identik dengan petuah moral, nasihat agama, dan filosofi hidup. Jika dibaca secara saksama, baris pertama dan baris kedua pada gurindam selalu saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
Ciri-Ciri Gurindam
Agar mudah dikenali dan tidak tertukar dengan jenis puisi lama lainnya, berikut adalah ciri-ciri gurindam:
- Satu bait hanya terdiri dari tepat 2 baris.
- Setiap baris umumnya memiliki 10 hingga 14 suku kata.
- Memiliki pola rima (sajak) akhir yang beraturan, yaitu a-a, b-b, c-c, dan seterusnya.
- Baris pertama dan baris kedua memiliki hubungan sebab-akibat (merupakan kalimat majemuk).
- Baris pertama selalu berfungsi sebagai sebab, yang berisi masalah, persoalan, perjanjian, atau syarat.
- Baris kedua selalu berfungsi sebagai akibat, yang berisi penyelesaian atau jawaban dari baris pertama.
- Keseluruhan baris (baris 1 dan 2) adalah isi yang mengandung nasihat, kata-kata mutiara, atau ajaran budi pekerti.
Struktur Rumus Gurindam
Untuk Adik-adik yang mendapat tugas dari sekolah untuk membuat gurindam sendiri, ada sebuah “rumus” sederhana yang bisa digunakan. Struktur gurindam ibarat sebuah rumus matematika sebab-akibat:
[Baris 1 : Kondisi / Syarat / Sebab] (Berakhiran rima A)
[Baris 2 : Konsekuensi / Akibat / Jawaban] (Berakhiran rima A)
Contoh penerapan rumus:
Baris 1 (Sebab) : Barang siapa rajin belajar, (rima akhir: ar)
Baris 2 (Akibat) : Pasti kelak menjadi pintar. (rima akhir: ar)
Perbedaan Gurindam, Pantun, dan Syair
Ketiga karya ini memang sama-sama tergolong puisi lama, tetapi bentuk dan aturannya sangat berbeda. Perhatikan tabel perbandingan di bawah ini agar kalian tidak bingung lagi:
| Ciri Pembeda | Gurindam | Pantun | Syair |
| Jumlah Baris (Satu Bait) | 2 baris | 4 baris | 4 baris |
| Pola Rima Akhir | a – a | a – b – a – b | a – a – a – a |
| Struktur Isi | Baris 1: Syarat/Sebab Baris 2: Akibat/Jawaban | Baris 1 & 2: Sampiran Baris 3 & 4: Isi | Semua baris (1, 2, 3, dan 4) adalah Isi seluruhnya |
| Kandungan Makna | Selalu berisi petuah moral dan nasihat hidup | Bisa berupa nasihat, teka-teki, atau jenaka (lucu) | Biasanya menceritakan dongeng, sejarah, atau kisah panjang |
Sejarah Singkat dan Pencipta Gurindam
Tahukah kamu? Istilah gurindam sebenarnya tidak asli dari Nusantara. Kata “gurindam” berasal dari bahasa Tamil (India), yaitu “kirindam” yang memiliki arti perumpamaan atau amsal.
Pada zaman dahulu, karya sastra ini dibawa oleh para pedagang Hindu dari India yang datang ke Kepulauan Melayu. Seiring berjalannya waktu, sastra ini berpadu dengan budaya Melayu dan ajaran Islam.
Tokoh pencipta gurindam yang paling melegenda di Nusantara adalah Raja Ali Haji. Beliau adalah seorang sastrawan, ulama, sekaligus pahlawan nasional dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Beliau menciptakan maha karya yang sangat terkenal pada tahun 1847, berjudul “Gurindam Dua Belas”. Karya ini berisi 12 pasal yang menjadi pedoman hidup masyarakat pada masanya.
Kumpulan Contoh Gurindam untuk Anak SD
Berikut adalah berbagai contoh gurindam dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kalian bisa membacanya untuk memahami pesan moral di dalamnya:
1. Tema Pendidikan dan Belajar
Barang siapa rajin belajar,
Pasti kelak menjadi pintar.
Jika kamu tak mau membaca,
Pasti tertinggal oleh dunia.
Ilmu itu bekal masa depan,
Agar hidupmu tak kebingungan.
2. Tema Sopan Santun dan Akhlak
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang. (Karya: Raja Ali Haji)
Barang siapa menjaga lisan,
Akan disayang banyak teman.
Bila bertutur kata sopan,
Ke mana pun pergi selalu aman.
3. Tema Berbakti pada Orang Tua
Barang siapa menyia-nyiakan ibu,
Itulah orang yang tidak berilmu. (Karya: Raja Ali Haji)
Hormatilah ayah dan bunda,
Agar kelak masuk surga.
4. Tema Persahabatan
Jika berteman suka bertengkar,
Tanda diri kurang terpelajar.
Cari teman yang suka menolong,
Bukan teman yang suka sombong.
Kesimpulan
Gurindam adalah kekayaan sastra lama yang sangat luar biasa. Meskipun sangat ringkas karena hanya terdiri dari dua baris bersajak a-a, gurindam mampu menyampaikan pesan moral dan nasihat yang mendalam. Berbeda dengan pantun yang memiliki sampiran, seluruh baris pada gurindam adalah isi yang saling melengkapi sebagai sebab dan akibat.
Semoga penjelasan mengenai pengertian, ciri-ciri, rumus, hingga contoh gurindam ini bermanfaat untuk Adik-adik semua. Teruslah rajin membaca agar kita selalu bisa melestarikan kekayaan bahasa dan sastra kebanggaan bangsa Indonesia. Selamat belajar!